Tuesday, October 23, 2012

Iman siapa lebih tinggi..

Iman dan taqwa kepada Allah..

Dalam kalangan kita, ada yang  selalu melihat sesuatu secara luaran dan literal, sedangkan tidak selalunya pandangan literal itu tepat. Kadang-kadang ia tersasar jauh dari apa yang sebenarnya.

Contohnya ada yg beranggapan orang berserban adalah lambang tinggi ilmunya, lebih labuh tudungnya adalah lambang ketakwaannya.   Sebab itu ada orang yang beranggapan yang berjubah, kopiah dan berjanggut melambangkan tinggi iman dan takwa mereka.
Begitu jugak ada yang beranggapan yang pakai tudung kurang labuh, maka kurang baik dari yang lagi labuh..


Kita tidak tahu, mungkin orang ini lebih baik dari orang itu.. mungkin yg nampak biasa2 lebih  menjaga mata dan akhlaknya, lebih kuat beribadah malam,  lebih baik dari yang sesetengah yg bertudung labuh dan berserban....

Kita mungkin perlu lebih menilai ke dalam lagi...
dalam dan dalam..sebelum membuat tanggapan.
lebih baik kalau elakkan dari buat sebarang tanggapan..

Tapi saya tidaklah kata orang bertudung labuh dan berjubah berserban tu tidak kuat imannya. Tidak sama sekali. Ia pakaian orang-orang baik.. Untuk berpakaian dan memilih berjubah tudung labuh dan berserban bukanlah mudah. Ia sukar dan merupakan satu perjuangan. Besar pahalanya untuk  kita berusaha untuk itu.

Saya juga selalu melihat beberapa orang tabligh, kadang-kadang sebahagian dari mereka keluar meninggalkan anak isteri selama berbulan-bulan, atas dasar beruzlah di masjid2, tp dan meninggalkan mencari nafkah untuk keluarga. Kadang-kadang yang didakwah orang luar, tapi lupa berdakwah dan mendidik anak isteri di rumah sendiri. Bahkan tidak ambik berat urusan nafkah yang wajib diberikan. Adakah mereka lebih baik dari yang lain?

Mungkin yang bekerja keras membanting tulang mencari rezeki, ke hulu ke hilir mungkin lebih baik iman mereka..

Itulah ..
kita perlu selalu pause and reflect...
duduk merenung dan berfikir..
mencari siapakah kita di sisi Allah..
apakah kita ini baik atau tidak dalam pandangan Tuhan kita yang Maha Besar.
Semoga setiap kali kita pause and reflect..
setiap itu memberi nilai taqwa kepada kita... insya ALlah..

Sepertimana kisah di bawah ini..
___________________

The Pious Man and the Shokeeper

There lived a pios man all by himself, who spent most of his time in paraying, fasting and praising Allah. Almost all his waking hours were utilised in mediation and devotions. He was very happy with his spritual progress. No wicked thoughts came to his mind and no evil temptations entered his heart.

One night, he dreamt a rather disturbing dream. He saw that a shopkeeper in the town was far superior to him in sprituality and that he must go to him to learn the basics of true spiritual life.

In the morning, the pios man went in search of the shopkeeper. He found him busy with his customers, selling goods and collecting money with a cheerful face. He sat there in a corner of the shop and watched the shopkeeper carefully. No signs of any spiritual life at all, he said to himself. His dream could not be true. But then he saw the shopkeeper dissapear to pray his solah. When he returned, he was busy with money matters again.

The shopkeeper noticed the pios man sittig int he corner and asked: "Assalamualaikum, would you like something, brother?"

"Waalaikumussalam. Oh. No! No!" said the pios man. "I don't want to buy anything, but I want to ask you a question." He then related his dream..

"Well, that is something to explain," said the shopkeeper, "but you will have to do something  for me before I answer your question."

"I will do anything for you," replied the pios man.

"All right. Take this saucer, there is some mercury in it. Go to the other end of the street and come back fast within half an hour. If the mercury falls out of the saucer, you will hear nothing from me. There you go now."

 The pious man took the saucer and started running. The mercury nearly wobled out of the saucer. He saved it just in time, and slowed down. Then he remembered he had to return within half an hour, so he started walking at a fast pace. At long last he returned puffing and panting. "Here is your mercury, safe and sound," he told the shopkeeper. "Now tell me the true interpretation of my dream."

The shopkeeper looked at the pious man's weary condition and asked him: "Well, friend, how many times did you remember Allah while you were going from this end of the street to the other?"

"Remember ALlah?" exclaimed the pious man. "I did not remember Him much. I was so worried about the mercury in the saucer."

"But I do remember Him all the time," said the shopkeeper. "When I am doing my business, I am also carrying mercury in a saucer. I am fair, honest and kind to my customers. I do not forget Allah in my dealings with other men."
_____________________

Apabila kita berbuat sesuatu yang nampak seolah-olah tidak ada nilai ibadah khusus, ia tidak bermakna kita jauh dari ALlah. Setiap yang kita buat, Allah ada di hati dan di minda. Kita mungkin tidak mampu duduk di sejadah lama seperti orang lain. Mungkin kita tidak mampu dengan kesibukan urusan kerja, untuk duduk berzikir dan duduk khusus untuk baca Qur'an, ma'thurat dan lain2lain. Tapi jangan dilupai Allah dalam setiap urusan kita.

Sambil drive kereta ke pejabat, kita boleh habiskan ma'thurat atas asas 10 Darus Syifa'.
Dari rumah ke kedai, kita boleh habiskan zikir dan baccan yang kita hafal.
Dalam belajar, kita sebenarnya bersama ALlah..
Kita belajar adalah untuk Allah, dan kerana Nya. Kita bekerja kerana Allah dan untukNya.. Setiap laluan perjalanan hidup kita di dunia ini.. adalah untuk Allah dan RasulNya, untuk Islam dan umatnya..

Semoga kita seperti shopkeeper yang selalu berhati-hati membawa mercury dalam hidup!