Thursday, June 12, 2008

Masalah Hidup

Saya ada masalah..
Dia ada masalah..
Orang tu ada masalah..
Aisah ada masalah..
Abah ada masalah..
Umi ada masalah..
Dan semua orang ada masalah...

Masalah adalah asam garam kehidupan.. Masalah bagiku mungkin bukan masalah bagi dia.. Masalah bagi dia mungkin bukan masalah bagiku..

Ada masalah berkaitan dengan kewangan, duit tak cukup setiap masa sedangkan benda nak dibeli selalu saja ada.. Ada yang berkaitan dengan kerjaya, ada yang bermasalah dengan kesihatan, ada yang bermasalah dengan pasangan hidup, ada pula yang bermasalah dengan ipar duai.. Ada yang bermasalah dengan akhlak.. Ada bermasalah dengan pelajaran.. Ada yang bermasalah dengan iman dalam hati.. Dan berjuta lagi masalah lain..

Artikel ini sangat menyentuh hatiku.. dikirim oleh somebody mengenai masalah dan kehidupan.. Dan yang pentingnya jadikan hati kita seperti danau toba yang besar.. bukan seperti gelas yang kecil....
_________________

Gelas v Danau

Seorang guru sufi melihat seorang muridnya selalu nampak murung dan sedih. "Kenapa kau selalu murung dan sedih nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?" Si Guru bertanya.

"Tuan Guru, kebelakangan ini hidup saya penuh dengan masalah. Sukar bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tiada akhirnya" jawab si murid. Guru tersenyum, "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam, bawalah kemari. Biar aku perbaiki suasana hatimu itu."

Si murid pun beranjak perlahan tanpa semangat. Ia melaksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa segelas air dan dua genggam garam sebagaimana diminta.
"Cuba ambil segenggam garam, dan masukkan ke dalam gelas air itu, setelah itu cuba kau minum airnya sedikit" kata Si Guru. Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis kerana meminum air yang sangat masin.

"Bagaimana rasanya?" Tanya Si Guru."Masin, dan perut saya rasa sangat mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis. Si Guru tersenyum sekali lagi apabila melihat wajah muridnya yang meringis ke masinan.

"Sekarang kau ikut aku." Si Guru membawa muridnya ke danau berhampiran tempat mereka. "Ambil garam yang segenggam lagi, dan tebarkan ke dalam danau ini" Si murid melemparkan segenggam garam yang tersisa ke dalam danau, tanpa bicara. Rasa masin di mulutnya masih belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa masin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya kurang sopan meludah di hadapan gurunya itu.. Begitulah fikirnya.

"Sekarang, cuba kau minum air danau itu," kata Si Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, bersebelahan pinggir danau. Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air dari danau, da n membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tekaknya, Gurunya bertanya, "Bagaimana rasanya nak?" "Segar, segar sekali Tuan Guru" kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan tangannya.

"Tentu saja enak kerana danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan suda h pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa masin yang tersisa di mulutnya.Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"

"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Si Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau tersebut sampai sepuas-puasnya.

"Nak," kata Si Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam... Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadarkan oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap sebegitu, Sebegitu, sebegitulah ia, tidak berkurang, tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."
Si murid terdiam, mendengar dengan teliti.

"Tapi anakku, rasa `masin' dari penderitaan yang dialami itu sangat bergantung dari besarnya 'qalbu' (hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak terasa menderita, berhentilah menjadi gelas. Jadikanlah qalbu dalam dadamu itu sebesar danau"...
_____________

Aku sungguh terkesan membaca kisah ini...

Bagi yang gagal mengatasi dan menguruskan masalah.. boleh jadi sakit jiwa..
Bagi yang pandai mengurus masalah.. dia akan menjadi lebih matang dan lebih dekat dengan Allah.. Aku ingin menjadi yang kedua, begitu juga Abah, Aisyah dan semua yang aku sayang.. Semoga hidup ini ceria dan bahagia.. masalah silih berganti seumpama angin berlalu pergi..

Berlapang dada, bersangka baik dengan Allah.. dan yakin diri bahawa rahmat Allah selalu mendepani kita adalah kaedah terbaik menangani masalah... Dan dengannya kita akan menjadi lebih kuat..hari demi hari.. Amin